Bar Mangan Ora Udud Eneg

8 02 2008

Wes Mangan Ora Udud Eneg…. Itulah sekilas pepatah bagi beberapa orang yang selalu merokok setelah makan. Memang, bagi penikmatnya merokok setelah makan adalah sebuah kenikmatan. Sehingga banyak orang yang demi kenikmatan sebatang rokok harus ngemil atau minum kopi atau teh. Entah mengapa, memang terasa beda jika kita merokok setelah makan dengan merokok tidak setelah makan. Tanpa melupakan Gerakan Anti Tembakau atau Program Larangan Merokok di Tempat Umum, saya akan mengulas sedikit mengenai distribusi rokok menurut cuaca daerahnya.
Begini, di Malang penjualan Djarum Super tidak akan sebanyak di Semarang. Bahkan toko Bu Kos tempat saya tinggal, tidak menjual Djarum Super. Kata Bu Kos Djarum Super tidak laku. Akhirnya saya pilih Surya 12. Tadinya mau pilih GGF alias Inter alias FIM alias Garfit. Tapi rokok ini batangnya pendek. Nggak puas ah!! pikirku.

Lalu di Malang Anda akan kesulitan mencari Djarum Coklat. Yang ada Djarum 76. Bagi orang yang dari Bogor atau Bandung dan sekitarnya yang terbiasa menikmati Djarum Coklat akan kesulitan dan harus rela menggantinya dengan saudara kembarnya yaitu Djarum 76. Sama-sama kretek dari pabrik yang sama.

Begitu juga di Bandung, Bogor dsk. Mencari Djarum 76 dan Surya akan mengalami kesulitan. Karena yang ada Djarum Coklat dan Inter. Orang Bandung menyebut Inter yaitu Garfit. Orang Solo menyebutnya GP. Entah apa singkatannya…

Itu sedikit contoh beberapa pabrik cigaret yang memproduksi cigaret dengan segmen pasar sesuai kondisi cuacanya. Masih banyak contoh lain yang mungkin saya belum pahami. Dan ulasan tadi juga belum tentu benar karena secara ilmiah, statistik belum ada laporan semacam itu yang saya baca. Tapi setidaknya itulah yang dapat saya simpulkan…[tri]





Pitch Control dalam dua pengertian

8 02 2008

Beberapa waktu yang lalu kita pasti familiar dengan frase ‘pitch control’. Ya, gabungan dua kata tersebut pernah booming dikalangan semua orang. Frase tersebut merupakan dampak dari euforia program Talent Search yang diadakan beberapa stasiun televisi Swasta di Indonesia. Adalah Trie Utami yang akrab disapa Mbak I’i yang tanpa sengaja mempopulerkan frase tersebut. Mbak I’i memang mendapatkan tugas untuk mengomentari setiap peserta AFI (Akademi Fantasi Indosiar) setelah selesai membawakan sebuah lagu untuk dinilai kualitas suaranya. Selain frase tersebut juga sering sekali terlontar frase seperti Range Vokal, Penjiwaan, Penguasaan Panggung, Ekspresi dan lain sebagainya.

Tapi bukan itu yang akan saya kupas disini. Tapi hanya ‘frase pitch’ control saja. Pitch control menurut Mbak I’i adalah kontrol atau pengendalian terhadap lontaran suara saat bernyanyi. Ini berhubungan dengan irama lagu, ritme musik, intonasi dan lain sebagainya mengenai suara. Terkadang suara musik terdengar lebih keras dibanding dengan suara vokal penyanyi. Ini bisa karena volume musik terlalu tinggi, tapi juga karena pitch control tadi yang kurang.

Namun, akan lain halnya jika pitch control ini di bahas oleh Robert T Kiyosaki, Tanadi Santoso atau Hermawan Kertajaya. Mereka juga punya istilah ini. Namun dengan pengertian yang berbeda. Pitch tetap berarti lemparan atau lontaran. Namun kali ini bukan suara yang di lemparkan tetapi barang atau produk komoditi. Alias barang yang di jual.
Di WWI ( World Wide Industries/Wholesale Warehousing Industries=entah mana yang asli), sebuah perusahaan Direct Selling asal Singapura yang di bawa ke Indonesia oleh seorang bule bernama Jhon Ranking dan seorang lagi yang saya lupa namanya, lalu di Indonesia berubah menjadi dua divisi yaitu PT. Tira Pustaka dan PT. Karyadaya Rekatama, istilah pitching atau to pitch menjadi menu sehari-hari. Setiap pagi diadakan briefing mengenai pitching, why to pitch atau bagaimana melempar (konotasi dari menjual) barang.

Bagaimana cara kita mempengaruhi kastemer agar produk kita bisa terlempar (terjual). Disana diajarkan metode 5 (lima) langkah penjualan. 1. Pendahuluan, meliputi senyum, salam, dan sapa. 2. Presentasi, meliputi kualitas barang, harga, keunggulan dsb. 3. Cerpen ( cerita pendek/short story) mengenai beberapa orang yang telah membeli, harga hanya hari ini, ini produk launching dengan harga khusus, atau bahkan ini produk cuci gudang dengan harga diskon dan sebagainya. 4. Closing, penutupan dengan cara memberi pushing terhadap kastemer agar membeli saat itu juga. Dengan memberi pertanyaan yang jawabannya hanya satu. “iya”. Seperti pertanyaan begini, Ibu mau pilih yang Hijau atau yang Merah? Bapak mau beli yang Kenzo atau Davidoff? dsb.. Disini kita dilarang atau harus menghindari pertanyaan yang jawabannya “ya” dan “tidak”. Seperti, Gimana Bu, mau beli sekarang atau besok? Atau, Gimana Pak jadi beli parfumnya? dsb. 5. Rehash, penawaran kembali produk pendamping.

Biasanya Direct Sales seperti ini tidak hanya membawa satu jenis barang, melainkan banyak. Ini biasanya mereka jual secara paket atau menawarkan produk lainnya setelah produk pertama terjual. Tujuannya adalah agar pada saat transaksi, tidak hanya satu barang saja yang terjual.

Demikian pengertian pitch control bagi beberapa orang yang pengertiannya berbeda. Ada juga sebuah kata yang beda artinya tergantung siapa yang menyebutnya. Yaitu, PENETRASI. Ini akan berbeda arti jika yang membahas dr. Boyke Dian Nugraha SpOG melawan Hermawan Kertajaya dkk… ulasannya di artikel lain[tri]





Penetrasi dalam dua pengertian

8 02 2008

Penetrasi. Ya, kata ini sering bikin tegang. Kebanyakan orang memang mengartikan kata ini sebagai tegang. dr. Boyke Dian Nugraha SpOG, dr. Naek L Tobing dan beberapa Dokter Spesialis Obstetricus dan Ginaekolog sering membahas ini dalam seminar-seminar mengenai (maaf) seks. Ini sering dibahas karena merupakan persoalan penting buat negara.. hahaha.. Sebab penetrasi adalah langkah awal terjadinya sebuah negara… hahaha (lagi)… Namun banyak orang (laki-laki tentunya) mempunyai masalah dengan hal ini. Sehingga sering terjadi kemelut negara (baca: rumah tangga) karena disfungsi ini. Biasanya sang nara sumber dalam seminar menjawabnya dengan memberi ulasan bahwa untuk hal tersebut di butuhkan kondisi psikologi yang sehat, badan yang fit dsb.. (saya kurang begitu paham, alhamdulillah negara saya aman). Minum jamu, pijat refleksi, olah raga yang cukup, istirahat yang cukup sering menjadi solusi bagi
penderita disfungsi penetrasi ini… Begitulah versi dr. Boyke dkk.

………………………………………………………………………………………………………………………
Lain lagi dengan penjelasan Prof. Hermawan Kertajaya, pemilik Konsultan Marketing Mark Plus ini sering juga berbicara di seminar-seminar membahas masalah Penetrasi ini. Karena masalah ini juga sering kali membuat tegang para pelakunya. Terutama Salesman dan Marketing. Sebab penetrasi atau pemerataan produk merupakan ujung tombak keberhasilan sebuah usaha distribusi. Pendeknya, penetrasi disini artinya pemerataan produk. Nah, panjangnya pemerataan produk yang dilakukan perusahaan distribusi ternyata tidaklah simpel seperti yang kita bayangkan. Ambil contoh seorang salesman mendapatkan target dari pimpinannya senilai seratus juta perbulan, misalnya. Bayangan orang awam bisa saja begini, “halah, yang penting di jual barang habis pulang bawa uang”. Bukan….. Bukan semudah itu.
……………………………………………………………………………………………………………………… Dalam sistem distribusi ternyata ada rumus yang sangat detail dan rumit (jika belum familiar). Tidak hanya berupa value atau nilai penjualan saja yang diperhitungkan. Ada rumus lain. Seperti; NPL (New Product Launching), yaitu target khusus untuk produk yang baru saja di launching perusahaan tersebut. OA (Outlet Aktif), yaitu target khusus mengenai jumlah toko yang aktif melakukan pembelian minimal sekali dalam seminggu, atau sebulan tergantung frekwensi repeat kunjungannya. EC (Effective Call), yaitu jumlah kunjungan yang menghasilkan transaksi dalam sehari. Karena dari kunjungan 100 (misal) dalam sehari yang melakukan pembelian belum tentu semua. Jumlah yang membeli inilah yang di sebut Effective Call. Ada juga produk yang masuk kategori Fast Moving atau produk yang mudah laku. Slow Moving yang berarti sebaliknya. Ada juga target mengenai jumlah uang masuk termasuk tagihan atau Collection. Terutama bagi Distributor yang memberi kemudahan relasi dengan cara kredit. Terkadang -semisal- sisa kredit Toko Pak Salim masih 12 juta, tapi Pak Salim order barang lagi senilai 10 juta padahal Pak Salim hanya membayar titipan tagihan 4 juta. Ini berarti pencapaian target Collection atau tagihan mleset. Jadi kalau kita mendapatkan target penjualan kacang dengan berbagai bentuk, ukuran, kualitas dan harga, tidak bisa kita terus mengatakan begini, “halah, yang laku kan kacang atom 500an, udah aja jual yang 500an itu sebanyak-banyaknya, yang penting nyampe seratus juta”… Tidak bisa begitu… Begitulah, penetrasi menurut Mark Plus ternyata tidaklah mudah. Tak semudah pengertian menurut dr. Boyke. Setidaknya itulah yang saya dapat dari pengalaman kerja saya di distributor produk Kacang Atom kebanggan Kota saya. [tri]





Anakku kini memanggilku Papa

8 02 2008

Suatu hari, tiba-tiba Dhimas, anakku yang pertama memanggilku ‘Papa’. Ini tidak biasanya, ya sering sih dia memanggilku dengan sebutan yang lain tapi ketika sedang bercanda. Namun kali ini Dhimas memanggilku ‘Papa’ dengan nada serius. Karena dalam kesehariannya kami mengajarkannya memanggilku dengan sebutan ‘Ayah’. Ini sejak aku dan mamanya masih pacaran.

Dulu memang kami saling memanggil ‘mama’ dan ‘ayah’. Nggak lazim sih memang. Karena Ayah biasanya identik dengan Ibu. Sementara Mama identik dengan Papa. Nah, ketika Dhimas memanggilku ‘papa’ tersebut, kami -orangtuanya- sempat kaget. Lalu Mamanya bertanya, ” Hey! Sejak kapan Dhimas panggil Ayah dengan sebutan Papa?”. Dhimas hanya tersenyum.

Waktu berikutnya ketika Dhimas memanggilku, lagi-lagi dengan sebutan Papa. Bahkan ketika sedang menangis meminta pertolongan saat terjatuhpun Dhimas tetap menggunakan sebutan Papa kepadaku. Juga ketika bangun tidur keesokan harinya, dan ketika terbangun untuk diantar pipis malam harinya. Kami sedikit heran, kenapa Dhimas begitu konsisten dengan evolusi memanggilnya. Lalu demi rasa penasaran kami, aku pun bertanya kepada Dhimas kenapa dia memanggilku Papa. Dia menjawab, “biar kaya di tipi” katanya. Kamipun tertawa bersamaan.

Lalu sejak saat itulah Dhimas memanggilku dengan sebutan Papa. Tetanggaku pada heran, kok bisa semudah itu merubah memori padahal dia masih kecil. Ya, Dhimas memang masih kecil. Baru berusia 5 tahun. Saat ini dia TK kecil. [tri]





Makan Enak Murah Hanya 2500perak

8 02 2008

Disaat dunia pertahuan dan pertempean di guncang dengan adanya harga kedelai yang merangkak naik, saya masih bisa menikmati lauk hasil olahan dari biji-bijian jenis palawija itu dengan harga yang ekonomis (baca:murah). Ya, ini karena baru saja saya bisa menikmati seporsi tempe penyet hanya dengan Rp. 2500,- . Harga tersebut sudah termasuk nasi putih, lalapan aneka warna bebas pilih, sambal terasi yang mak nyoozzz dan segelas air putih, maksud saya air bening (teman saya sering menyela, jika saya menyebut air putih berarti susu).

Seperti biasanya, selama berada di Malang beberapa hari ini setiap selesai Maghrib, saya berjalan jalan keluar dengan Smash-ku untuk mencari makan malam. Setelah berputar-putar kota, akhirnya saya melihat sebuah warung makan spesialis lalapan. Ini menu favorit saya. Warungnya rame. Biasanya kalau rame pasti laris. Setidaknya masuk kategori saya menjadi warung langganan.

Ya, setelah saya memarkir motor, saya pun masuk ke warung itu. Benar saja, menunya lengkap. Ada lele, ayam goreng, telor penyet dan tentu saja tempe penyet. Yang terakhir ini adalah menu kesukaan saya. Istri saya senang sekali dengan kegemaran saya ini. Murah, carinyapun mudah. Dan pasti kalau makan dengan menu ini saya pasti nambah. Istri saya selalu menghadiahkan sebuah ciuman ketika melihat saya nambah saat makan. (hmm… bikin cembokur ya?)

Kembali ke warung penyet. Setelah memesan tempe penyet, saya menunggu sambil menikmati acara TV yang tersedia disitu. Saat itu di RCTI sedang ada Sinetron Namaku Mentari. Sinetron yang menurutku tak bermutu itu sedang diputar di stasiun TV swasta pertama itu. Sepuluh menit kemudian, sepiring nasi putih, seporsi tempe dalam kubangan sambal terasi yang disuguhkan dalam cobek tanah juga turut disajikan. Hmm… tak sabar rasanya menghabiskannya.

Tidak sampai 20 menit, menu spesial (bagi saya) itupun habis. Lalu aku pun membayarnya setelah menyulut sebatang Djarum Super. “Berapa, Mbak?”. Tanyaku sama penjualnya. ” Tambah apa, Mas?” tanya dia balik. ” Nggak, cuma sama air putih”. Mbaknya jawab, “duaribu limaratus, Mas”… Hah!!!??? Murah sekali, batinku.

Ah, kalau begini bisa tiap sore nih makan disini, pikirku. Murah, enak. Tapi sayang, seandainya saya nambah nasi putih, tidak akan ada yang mencium saya. Biarlah, ciumnya diakumulasikan saja nanti setelah kembali kumpul.[tri]





Kriteria Menjadi Warung Langgananku

8 02 2008

Di beberapa tempat yang sering aku singgahi, aku biasanya memiliki tempat makan yang aku jadikan langganan. Warung makan sih, bukan restoran seperti kebanyakan orang. Namun, meski hanya warung makan, tapi aku selalu ‘mengajukan’ syarat untuk bisa masuk menjadi warung makan langgananku. Yakni seperti ini;

1. Murah. Ini jelas, aku nggak mau makan meski enak tapi harganya nggak sepantasnya. Misal, ayam goreng, nasi, sama teh anget 12500. Ini namanya mahal. Setidaknya porsi seperti tadi maksimal 7500. Normalnya 5000 bahkan kurang.

2. Nyaman. Maksudnya nyaman adalah; tempatnya agak luas, tidak berdesakan ketika sedang ramai. Parkirnya juga memadai. Pelayanananya juga menyenangkan. Aku paling suka setelah makan merokok sebentar barang 15 menit. Ketika merokok kita merasakan kenyamanan.

3. Higienis. Banyak warung makan yang murah tapi nggak higienis. Terkadang beberapa makanan kemasukan demu, meja yang kotor, baik kotor kering maupun basah. Cara pemasakan dan dapurpun sering menunjukkan warung itu higienis atau tidak.

4. Enak. Ini jelas. Senyaman apapun kalau masakannya tidak enak siapaun nggak bakalan mengulanginya untuk makan disitu.
Itulah setidaknya 4 (empat) kriteria untuk menjadi warung makan langgananku. Anda tidak sependapat? Silahkan posting komentar Anda… [tri]





Akhirnya Kupertahankan Smash-ku

8 02 2008

Motor Smashku sudah dalam kondisi yang mengenaskan. Suaranya sudah tak enak lagi. Ada yang bilang suara piston, ada yang bilang suara ringnya, ada juga yang bilang karena olinya bocor. Ya, memang terlihat pada mesin, olinya sering sekali ndlewer. Hingga menempelkan debu pada permukaannya. Kami (aku dan istriku) bingung. Diapakan ini? Ada beberapa opsi agar aku tetap bisa mobile dengan nyaman dan aman. Selain mesin , beberapa partnya juga sudah mulai aus minta diganti. Ban depan belakang sudah hampir professor alias botak, rantai sudah mulai bersuara “kretak-kretak”. Bodinya apalagi. Semua bagian pada deknya sudah banyak yang retak bahkan pecah.

Opsinya; 1. Dijual apa adanya, lantas uangnya dipakai buat uang muka kredit baru. Keuntungannya; aku punya motor baru dengan kondisi yang sip dan aku akan nyaman serta aman berkendara. Kelemahannya; aku harus menambah lingkaran-lingkaran pada kalenderku yang sudah penuh dengan lingkaran jadwal tagihan sembarang kalir.

Opsi ke 2. Di jual, lalu di belikan motor lagi tapi bekas. Nggak pake ngutang sih, tapi aku punya motor yang mungkin sedikit agak waras meski aku juga harus berspekulasi dengan kualitas dan keamanannya.

Opsi ke 3. Sedikit demi sedikit di betulin spare partnya agar bisa tetap dipakai sambil nunggu uang longgar untuk kemungkinan selanjutnya. Tapi kalau nggak sekalian yang lain di servis juga percuma, karena bisa saja yang lain akan semakin parah dan akan menimbulkan biaya yang lebih besar dikemudian hari.

Opsi ke 4. Dipaksakan, diusahakan uang untuk servis total. Kalaupun uangnya hasil pinjaman kan nggak terlalu besar, yang penting istri keduaku (sebutanku untuk si smash seksi ini) ini tetap berada di tanganku. Bagaimanapun aku nggak terlalu rela jika harus berpisah dengan smashku ini. Seperti yang sudah aku taksirkan, termasuk keinginan istriku agar motor ini di poles gaya racing, seperti pelek dan knalpotnya, setidaknya aku butuh uang sekitar 2 juta. Wah, lumayan besar. Ya, sebab untuk mesin sudah saatnya turun mesin.

Semua ini adalah sebuah dampak ketika aku bekerja di Garudafood sebagai Salesman TO. Setidaknya setiap hari aku harus menempuh jarak rata-rata 150km. Wow!! Fantastis. Bahkan setiap hari Senin dan Selasa aku harus menempuh perjalanan selama sehari sepanjang 230km. Ini serius. Sebab, aku Salesman wilayah Purwodadi. Sedangkan kantorku ada di Pati. Setiap Senin aku harus mengunjungi setidaknya 20 toko yang kebanyakan berada di wilayah Kabupaten Boyolali, tepatnya di Kecamatan Juwangi. Jauh melampaui Purwodadi. Jarak dari kantorku 198km. Sedangkan dari rumah ke kantor jaraknya 16 km. Bayangkan kalau pp sudah berapa? Capek Deh!

Dampaknya, motorku hancur luar dalam. Selain itu, aku memang praktisi di bidang penjualan yang berada di lapangan semenjak tahun 1997. Hingga sekarang. Sedangkan motorku ini aku beli tahun 2004 bulan Juni. Belum lagi ketika aku berwiraswasta di bidang peternakan, motorku aku pakai mengangkut telor itik yang beratnya mencapai 75-100 kg. Satu kuintal. Busyett!! Yah, namanya juga usaha.

Tapi semua sudah kami perhitungkan. Termasuk ketika aku bekerja di Garudafood , aku mendapatkan biaya perawatan motor setidaknya 6000 rupiah perhari. Sekarang, dalam kebingungan kami memilih beberapa opsi tadi, kamipun sering berkonsultasi dengan teman-temanku, orang-orang terdekatku termasuk saudara-saudaraku. Semua punya opsi yang berbeda, namun ada dalam opsi-opsi yang tadi kami pikirkan.

Akhirnya, setelah kami mengalami kebuntuan, tiba-tiba istriku membangunkanku lebih pagi pada suatu hari Minggu.
” Yah, udah deh motornya di servis total aja..,” kata istriku setelah memastikan aku bangun pagi itu.
” Lalu, uangnya darimana Ma?,” tanyaku.
” Itu, uang toko dipakai aja dulu. Kayaknya kulakannya bisa ditunda. Barang-barangnya masih cukup banyak kok. Paling nanti sore juga udah dapet lagi uang segitu,” kata istriku.
” Ya udah, Ayah tak berangkat ke Juana. Ke bengkel langganan. Mumpung masih pagi. Kan pasti nanti seharian full,”

Lalu setelah membersihkan badan ala kadarnya, akupun berangkat ke Juana menuju bengkel langgananku. Dan benar juga. Aku seharian berada di bengkel nungguin tekhnisinya mengubrak-abrik motorku. Sesekali aku tinggal untuk menengok dek yang aku catkan ulang sebagian di bengkel cat. Sebagian lagi aku belikan baru tapi imitasi. Sebab sudah tak memungkinkan lagi untuk dipoles atau di cat ulang.

Kini, si seksi itu telah kembali cantik. Warnanya menawan. Mengkilap. Aku sengaja tidak memberi strip pada deknya. Aku ingin yang simpel tapi tetap manis. Setiap pagi kumandikan. Ku lap dengan kain bludru plus silikon yang membuatnya makin seksi. Sambil nyirami Gelombang Cinta yang ku pajang didepan rumah beserta beberapa tanaman hias lainnya.

Kebetulan aku juga ikut-ikutan jual tanaman hias. Ada seorang pensiunan Perhutani yang aku kenal di jalan, berbaik hati memberiku pinjaman beberapa puluh pot tanaman hias termasug anthurium guna aku jual di depan toko klontongku. Beliau bernama Pak Imam. Hasilnya cukup lumayan. Bayarnya juga konsinyasi, kalau laku baru di bayar. Seminggu sekali Pak Imam menjenguk bunga-bunga kami. Termasuk memberi pengarahan mengenai perawatan, breeding dan juga harga-harga di pasar saat itu. Alhamdulillah. Kini semuanya berjalan lancar. Motorku kembali seperti baru. Kedua istriku kini makin kusayang. I Love You Mama, I Love You Smash Imut. [tri]