Akhirnya Kupertahankan Smash-ku

8 02 2008

Motor Smashku sudah dalam kondisi yang mengenaskan. Suaranya sudah tak enak lagi. Ada yang bilang suara piston, ada yang bilang suara ringnya, ada juga yang bilang karena olinya bocor. Ya, memang terlihat pada mesin, olinya sering sekali ndlewer. Hingga menempelkan debu pada permukaannya. Kami (aku dan istriku) bingung. Diapakan ini? Ada beberapa opsi agar aku tetap bisa mobile dengan nyaman dan aman. Selain mesin , beberapa partnya juga sudah mulai aus minta diganti. Ban depan belakang sudah hampir professor alias botak, rantai sudah mulai bersuara “kretak-kretak”. Bodinya apalagi. Semua bagian pada deknya sudah banyak yang retak bahkan pecah.

Opsinya; 1. Dijual apa adanya, lantas uangnya dipakai buat uang muka kredit baru. Keuntungannya; aku punya motor baru dengan kondisi yang sip dan aku akan nyaman serta aman berkendara. Kelemahannya; aku harus menambah lingkaran-lingkaran pada kalenderku yang sudah penuh dengan lingkaran jadwal tagihan sembarang kalir.

Opsi ke 2. Di jual, lalu di belikan motor lagi tapi bekas. Nggak pake ngutang sih, tapi aku punya motor yang mungkin sedikit agak waras meski aku juga harus berspekulasi dengan kualitas dan keamanannya.

Opsi ke 3. Sedikit demi sedikit di betulin spare partnya agar bisa tetap dipakai sambil nunggu uang longgar untuk kemungkinan selanjutnya. Tapi kalau nggak sekalian yang lain di servis juga percuma, karena bisa saja yang lain akan semakin parah dan akan menimbulkan biaya yang lebih besar dikemudian hari.

Opsi ke 4. Dipaksakan, diusahakan uang untuk servis total. Kalaupun uangnya hasil pinjaman kan nggak terlalu besar, yang penting istri keduaku (sebutanku untuk si smash seksi ini) ini tetap berada di tanganku. Bagaimanapun aku nggak terlalu rela jika harus berpisah dengan smashku ini. Seperti yang sudah aku taksirkan, termasuk keinginan istriku agar motor ini di poles gaya racing, seperti pelek dan knalpotnya, setidaknya aku butuh uang sekitar 2 juta. Wah, lumayan besar. Ya, sebab untuk mesin sudah saatnya turun mesin.

Semua ini adalah sebuah dampak ketika aku bekerja di Garudafood sebagai Salesman TO. Setidaknya setiap hari aku harus menempuh jarak rata-rata 150km. Wow!! Fantastis. Bahkan setiap hari Senin dan Selasa aku harus menempuh perjalanan selama sehari sepanjang 230km. Ini serius. Sebab, aku Salesman wilayah Purwodadi. Sedangkan kantorku ada di Pati. Setiap Senin aku harus mengunjungi setidaknya 20 toko yang kebanyakan berada di wilayah Kabupaten Boyolali, tepatnya di Kecamatan Juwangi. Jauh melampaui Purwodadi. Jarak dari kantorku 198km. Sedangkan dari rumah ke kantor jaraknya 16 km. Bayangkan kalau pp sudah berapa? Capek Deh!

Dampaknya, motorku hancur luar dalam. Selain itu, aku memang praktisi di bidang penjualan yang berada di lapangan semenjak tahun 1997. Hingga sekarang. Sedangkan motorku ini aku beli tahun 2004 bulan Juni. Belum lagi ketika aku berwiraswasta di bidang peternakan, motorku aku pakai mengangkut telor itik yang beratnya mencapai 75-100 kg. Satu kuintal. Busyett!! Yah, namanya juga usaha.

Tapi semua sudah kami perhitungkan. Termasuk ketika aku bekerja di Garudafood , aku mendapatkan biaya perawatan motor setidaknya 6000 rupiah perhari. Sekarang, dalam kebingungan kami memilih beberapa opsi tadi, kamipun sering berkonsultasi dengan teman-temanku, orang-orang terdekatku termasuk saudara-saudaraku. Semua punya opsi yang berbeda, namun ada dalam opsi-opsi yang tadi kami pikirkan.

Akhirnya, setelah kami mengalami kebuntuan, tiba-tiba istriku membangunkanku lebih pagi pada suatu hari Minggu.
” Yah, udah deh motornya di servis total aja..,” kata istriku setelah memastikan aku bangun pagi itu.
” Lalu, uangnya darimana Ma?,” tanyaku.
” Itu, uang toko dipakai aja dulu. Kayaknya kulakannya bisa ditunda. Barang-barangnya masih cukup banyak kok. Paling nanti sore juga udah dapet lagi uang segitu,” kata istriku.
” Ya udah, Ayah tak berangkat ke Juana. Ke bengkel langganan. Mumpung masih pagi. Kan pasti nanti seharian full,”

Lalu setelah membersihkan badan ala kadarnya, akupun berangkat ke Juana menuju bengkel langgananku. Dan benar juga. Aku seharian berada di bengkel nungguin tekhnisinya mengubrak-abrik motorku. Sesekali aku tinggal untuk menengok dek yang aku catkan ulang sebagian di bengkel cat. Sebagian lagi aku belikan baru tapi imitasi. Sebab sudah tak memungkinkan lagi untuk dipoles atau di cat ulang.

Kini, si seksi itu telah kembali cantik. Warnanya menawan. Mengkilap. Aku sengaja tidak memberi strip pada deknya. Aku ingin yang simpel tapi tetap manis. Setiap pagi kumandikan. Ku lap dengan kain bludru plus silikon yang membuatnya makin seksi. Sambil nyirami Gelombang Cinta yang ku pajang didepan rumah beserta beberapa tanaman hias lainnya.

Kebetulan aku juga ikut-ikutan jual tanaman hias. Ada seorang pensiunan Perhutani yang aku kenal di jalan, berbaik hati memberiku pinjaman beberapa puluh pot tanaman hias termasug anthurium guna aku jual di depan toko klontongku. Beliau bernama Pak Imam. Hasilnya cukup lumayan. Bayarnya juga konsinyasi, kalau laku baru di bayar. Seminggu sekali Pak Imam menjenguk bunga-bunga kami. Termasuk memberi pengarahan mengenai perawatan, breeding dan juga harga-harga di pasar saat itu. Alhamdulillah. Kini semuanya berjalan lancar. Motorku kembali seperti baru. Kedua istriku kini makin kusayang. I Love You Mama, I Love You Smash Imut. [tri]


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: