Pitch Control dalam dua pengertian

8 02 2008

Beberapa waktu yang lalu kita pasti familiar dengan frase ‘pitch control’. Ya, gabungan dua kata tersebut pernah booming dikalangan semua orang. Frase tersebut merupakan dampak dari euforia program Talent Search yang diadakan beberapa stasiun televisi Swasta di Indonesia. Adalah Trie Utami yang akrab disapa Mbak I’i yang tanpa sengaja mempopulerkan frase tersebut. Mbak I’i memang mendapatkan tugas untuk mengomentari setiap peserta AFI (Akademi Fantasi Indosiar) setelah selesai membawakan sebuah lagu untuk dinilai kualitas suaranya. Selain frase tersebut juga sering sekali terlontar frase seperti Range Vokal, Penjiwaan, Penguasaan Panggung, Ekspresi dan lain sebagainya.

Tapi bukan itu yang akan saya kupas disini. Tapi hanya ‘frase pitch’ control saja. Pitch control menurut Mbak I’i adalah kontrol atau pengendalian terhadap lontaran suara saat bernyanyi. Ini berhubungan dengan irama lagu, ritme musik, intonasi dan lain sebagainya mengenai suara. Terkadang suara musik terdengar lebih keras dibanding dengan suara vokal penyanyi. Ini bisa karena volume musik terlalu tinggi, tapi juga karena pitch control tadi yang kurang.

Namun, akan lain halnya jika pitch control ini di bahas oleh Robert T Kiyosaki, Tanadi Santoso atau Hermawan Kertajaya. Mereka juga punya istilah ini. Namun dengan pengertian yang berbeda. Pitch tetap berarti lemparan atau lontaran. Namun kali ini bukan suara yang di lemparkan tetapi barang atau produk komoditi. Alias barang yang di jual.
Di WWI ( World Wide Industries/Wholesale Warehousing Industries=entah mana yang asli), sebuah perusahaan Direct Selling asal Singapura yang di bawa ke Indonesia oleh seorang bule bernama Jhon Ranking dan seorang lagi yang saya lupa namanya, lalu di Indonesia berubah menjadi dua divisi yaitu PT. Tira Pustaka dan PT. Karyadaya Rekatama, istilah pitching atau to pitch menjadi menu sehari-hari. Setiap pagi diadakan briefing mengenai pitching, why to pitch atau bagaimana melempar (konotasi dari menjual) barang.

Bagaimana cara kita mempengaruhi kastemer agar produk kita bisa terlempar (terjual). Disana diajarkan metode 5 (lima) langkah penjualan. 1. Pendahuluan, meliputi senyum, salam, dan sapa. 2. Presentasi, meliputi kualitas barang, harga, keunggulan dsb. 3. Cerpen ( cerita pendek/short story) mengenai beberapa orang yang telah membeli, harga hanya hari ini, ini produk launching dengan harga khusus, atau bahkan ini produk cuci gudang dengan harga diskon dan sebagainya. 4. Closing, penutupan dengan cara memberi pushing terhadap kastemer agar membeli saat itu juga. Dengan memberi pertanyaan yang jawabannya hanya satu. “iya”. Seperti pertanyaan begini, Ibu mau pilih yang Hijau atau yang Merah? Bapak mau beli yang Kenzo atau Davidoff? dsb.. Disini kita dilarang atau harus menghindari pertanyaan yang jawabannya “ya” dan “tidak”. Seperti, Gimana Bu, mau beli sekarang atau besok? Atau, Gimana Pak jadi beli parfumnya? dsb. 5. Rehash, penawaran kembali produk pendamping.

Biasanya Direct Sales seperti ini tidak hanya membawa satu jenis barang, melainkan banyak. Ini biasanya mereka jual secara paket atau menawarkan produk lainnya setelah produk pertama terjual. Tujuannya adalah agar pada saat transaksi, tidak hanya satu barang saja yang terjual.

Demikian pengertian pitch control bagi beberapa orang yang pengertiannya berbeda. Ada juga sebuah kata yang beda artinya tergantung siapa yang menyebutnya. Yaitu, PENETRASI. Ini akan berbeda arti jika yang membahas dr. Boyke Dian Nugraha SpOG melawan Hermawan Kertajaya dkk… ulasannya di artikel lain[tri]


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: